Rabu, 01 Mei 2013

RESENSI FILM WRECK-IT RALPH



Sutradara                     : Rich Moore
Penulis naskah             : Rich Moore, Phil Johnston, Jim Reardon
Pengisi suara               : John C. Reilly, Sarah Silverman, Jack McBrayer, Jane Lynch.
Studio                         : Walt Disney Animation Studios
Durasi                          : 108 menit
Genre                          : Animasi, komedi, drama




SINOPSI

Ralph adalah tokoh antagonis dalam permainan dingdong Fix-it Felix. Selama 30 tahun, lelaki tinggi besar bertangan kokoh ini kerap menghancurkan gedung apartemen di Nicelanders. Sedangkan Felix, lelaki kecil yang memiliki palu emas, bertugas memperbaiki segala kerusakan. Dan Ralph jemu
Dia bosan merusak gedung, jenuh dibenci orang-orang, iri melihat Felix selalu mendapatkan kue, dan sedih tidur sendiri di tumpukan puing batu bata. “Aku ingin medali emas serupa milik Felix,” kata Ralph.

Waktu itu, Ralph berkeluh di depan temannya sesama penjahat dalam game. Seperti Zangief dan M. Bison dari permainan Street Fighter; Clyde si hantu gentayangan sekaligus musuh Pac Man, serta Cyborg dari Mortal Combat. Tapi tak ada yang mengerti kegalauan Ralph. Dia pun pergi dari game Fix-It Felix.

Ralph ingin membuktikan bahwa dia juga bisa meraih medali dari permainan lain. Namun hengkangnya Ralph membuat Felix serta karakter lain di Fix-It Felix khawatir. Sebab, tanpa Ralph, tidak ada yang bertugas menghancurkan gedung. Maka tidak ada benda yang bisa diperbaiki Felix. Kalau sudah begitu, kiamatlah game Fit-It Felix.

Karena itu, Felix ikut pergi dari permainan itu. Dia mencari Ralph ke game lain. Ralph minggat, Felix juga menghilang. Dengan terpaksa, si pengelola dingdong, Litwak, menempel kertas peringatan rusak di layar Fit-It Felix.

Ide cerita film animasi Wreck-It Ralph ini mirip Toys Story. Masih soal mainan yang bisa berbicara, bergerak, dan memiliki kehidupan sendiri kala manusia tidak melihatnya. Bedanya, aktivitas mereka terbatas di arena dingdong saja. Hanya bergerak dari satu game ke game lain melalui kabel-kabel yang terhubung ke satu stop kontak. Tak seperti Woody, Buzz, atau Rex yang bisa pindah rumah dan naik kendaraan manusia dalam Toys Story.

Sutradara Wreck-It Ralph adalah Rich Moore. Sepanjang kariernya, Moore dikenal sebagai pengarah keluarga Simpsons. Ada 19 judul The Simpsons yang digarap Moore. Misalnya:Bart the Murderer, Homer's Night Out, serta Simpson and Delilah.
Terbiasa menggarap The Simpsons, sepertinya tidak mempengaruhi Moore dalam membuat Wreck-It Ralph. Sebab, di sini, Moore tidak menyinggung humor lokal atau sarkasme layaknya keluarga Simpsons.

Bahkan, sebetulnya, tidak terlalu banyak humor yang ditawarkan Moore. Kalaupun ada yang menggelitik, itu sifatnya hanya sementara. Bukan lelucon yang bisa kembali membuat tertawa kala mengingatnya lagi. Karena itu, Wreck-It Ralph bakal membosankan untuk anak di bawah usia 8 tahun.

Di sini, Moore lebih berpaku pada cerita. Mirip drama, namun plotnya agak ringan. Dengan demikian, bisa dimengerti penonton yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Khususnya bagi mereka yang duduk di kelas tiga ke atas.

Wreck-It Ralph memang animasi dan ditujukan untuk penonton cilik. Tapi film ini berubah menjadi dewasa waktu Felix bertemu Sersan Tamora Jean Calhoun dari permainan Hero’s Duty. Melihat sisi maskulin Calhoun, Felix jatuh cinta. Karena itu, adegan ciuman dan tatapan mesra pun tak terhindarkan. Membuat penonton cilik kudu dipaksa menutup matanya oleh orang tua mereka.

Yang membuat Wreck-It Ralph sama dengan kebanyakan film Amerika, gambar bergerak produksi Studio Walt Disney ini juga menyelipkan kesan patriotik. Di sana, Calhoun bertugas memimpin pasukan pembasmi serangga yang mengancam kehidupan manusia. Adegan yang begitu “Amerika banget”.

Menariknya, di Wreck-It Ralph, Moore mengajarkan penonton bahwa pahlawan tidak melulu mendapatkan tanda jasa, medali, atau penghargaan. Seperti yang dilakukan Ralph untuk teman barunya, Vanellope von Schweetz, di permainan Sugar Rush.

Vanellope sesungguhnya pembalap tangguh. Tapi King Race menghilangkan kemampuannya. Melupakan keinginan meraih medali, Ralph menolong Vanellope kembali ke arena balap. Bahkan dia merelakan nyawanya demi Vanellope.
Kata Ralph ketika melihat Vanellope, “Aku tidak perlu medali. Selama anak itu menyukaiku, aku tahu kalau aku tidak jahat.” Kalimat yang membuat saya bergumam, “Ooooh…”

Di sini, Moore juga mengajak penonton untuk belajar menerima kondisi diri sendiri. Baik-buruknya. Seperti yang diucapkan Ralph dan tokoh penjahat lainnya dalam kelompok pendukung atau support grup, Bad-Anon. “I am bad, and that’s good, I will never be good, and that’s not bad. There’s no one I’d rather be than me.”

Untuk pencinta video game, film ini sungguh menarik. Apalagi bila hafal nama, karakter, dan kemampuan para pemain. Sebab, mereka bisa melihat “kehidupan” asli para tokoh seusai permainan. Seperti aktivitas Ken dan Ryu dari Street Fighter, yang kerap nongkrong di Bar Taper seusai bertarung.

Lucu saja melihat mereka ngobrol, bersantai, bercengkerama, bahkan saling jatuh cinta setelah sibuk adu jotos.

1 komentar:

calculati alfi mengatakan...

Kawan, karena kita sudah mulai memasuki mata kuliah softskill akan lebih baik jika blog ini disisipkan link Universitas Gunadarma yang merupakan identitas kita sebagai mahasiswa di Universitas Gunadarma juga sebagai salah satu kriteria penilaian mata kuliah soft skill seperti

- www.gunadarma.ac.id
- www.studentsite.gunadarma.ac.id
- www.baak.gunadarma.ac.id

untuk info lebih lanjut bagaimana cara memasang RSS , silahkan kunjungi link ini
http://hanum.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/folder/0.5

Star Calendar